Penanganan Dampak Psikologis Setelah Bencana

Bencana alam adalah suatu stresor sangat berat yang mengganggu kehidupan normal dan mengakibatkan penderitaan yang melampaui kapasitas manusia untuk menyesuaikan diri atau mengatasinya. Dampak stresor bencana sangat besar karena masyarakat umumnya memiliki sedikit cadangan dan sumber daya untuk melanjutkan hidup. Dampak itu dapat berupa sakit dan meninggal, pengungsian penduduk, kurang pangan dan gizi, kurang air dan sanitasi, penyakit, hingga kerusakan prasarana, sarana, dan lingkungan.

Kesiapan menghadapi bencana, suka tidak suka, harus diakui bahwa kesiapan kita dalam menghadapi bencana terbatas. Kita tidak memiliki strategi rencana untuk menghadapi bencana. Kalau terjadi bencana masyarakat miskinlah yang menderita dan cenderung mengabaikan masalah terkait dengan kebutuhan kesehatan jiwa. Ketika bencana terjadi, kebutuhan ini baru dirasakan.

Diperlukan serangkaian keterampilan yang memungkinkan masyarakat merawat keluarga, teman, tetangga, dan diri mereka sendiri dengan cara memberikan dukungan psikologis dasar setelah kejadian traumatis.

Baca juga : 8 Tindakan yang Bisa Anda Lakukan untuk Menghemat AirĀ 

Stres sekunder terhadap bencana dapat disebabkan karena pola hidup korban tiba-tiba berubah, krisis ekonomi hilang mata pencaharian, atau hilangnya sistem masyarakat. Untuk membantu mekanisme itu dan menata hidupnya kembali, diperlukan pendampingan dan dukungan psikososial dan kesehatan jiwa.

Penanggulangan dampak psikologis korban, dapat dilakukan dengan cara intervensi krisis dan segera mengembalikan penderita ke fungsi semula. Korban dapat menunjukkan serangan panik dan ini merupakan kedaruratan. Pada keadaan panik, korban segera ditenangkan, bawa keluar dari tempat atau situasi yang menimbulkan stres dan dampingi penderita oleh orang yang dapat memberikan keyakinan diri dan rasa aman.

Baca juga :Perawatan tubuh dari masa kemasa

Kasus akut dan ringan ditanggulangi dengan memenuhi kebutuhan standar; petunjuk yang positif, aktivitas yang konstruktif, ditempatkan di tempat yang cocok, konseling disertai sugesti yang positif bahwa korban bisa pulih dan bekerja kembali.

Hospitalisasi diperlukan bila ditemukan tanda-tanda tentamina suicide atau kekerasan oleh korban karena emosi yang labil. Hospitalisasi merupakan keadaan di mana orang sakit berada pada lingkungan rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dalam perawatan atau pengobatan sehingga dapat mengatasi atau meringankan penyakitnya. Selama hospitalisasi, korban dapat diikutkan dalam terapi kelompok atau sharing. Bila gejala mereda korban segera dikeluarkan dari rumah sakit untuk bekerja lagi dan memikul tanggung jawab semula (early ambulatory). Hospitalisasi lama akan menambah rasa malu memikirkan dirinya, sehingga pemulihan ke fungsi optimal menjadi lebih sulit. Lama pengobatan tahap awal tidak kurang dari 8 minggu untuk mendapatkan efek yang maksimal dan dapat diteruskan selama beberapa bulan (6 sampai l tahun) .