Nazaruddin Ikhlas Keputusan Hakim

Masih ingat dengan nazaruddin? Pria yang seorang pengusaha dan sekaligus politisi dari Partai Demokrat. Mantan bendahara Partai asuhan Bapak Susilo Bambang Yodoyoni ini menjadi kasus tersangka suap wisma atlet saat berlangsungnya SEA Games yang ke 26. Kasus tersebut sebetulnya sudah ditetapkan KPK pada tahun 2011, namun kini kembali naik daun dan menjadi bahan perbincangan di warung kopi, kampus, dan berbagai lingkungan masyarakat.

Pasalnya berita hari ini setelah melihatnya di sindonews.com saat ini sudah terbukti secara sah dan juga diyakini melakukan tindakan pidana korupsi serta pencucian uang. Hal tersebut dikatakan hakim bahwa Muhammad Nazaruddin terbukti melakukan pencucian uang saat terjadinya kasus suap yang dilakukan pada saat kasus hambalang. Majelis hamik tipikor atau hakim pengadilan tindak pidana korupsi, menjauhkannya vonis selama 6 tahun dan juga dengan sebesar 1 miliar.

Dilansir dari sindonews.com, ternyata nazaruddin tidak akan mengajukan banding dan sudah siap menjalani masa tahanan. “Saya iklhas seikhlasnya. Saya menerima semua apapun yang diputuskan. Saya tidak punya niat untuk melakukan banding atau proses” Uzan Nazarudin.

Sungguh memang tidak disangka atas apa yang diucapkan oleh nazaruddin. Hal tersebut dikarenakan berbanding terbalik pada saat dirinya dinyatakan sebagai tersangka pada kala itu. Pasalnya pada saat itu, ia menyangkal bahwa dirinya tidak mengenal Mindo Rosalina Manulang dan Wafid yang sudah tertangkap tangan terlebih dahulu oleh penyidik KPK. Bahkan hingga dirinya pernah kabur keluar negeri, agar tidak bisa ditangkap dan diperiksa. Perjuangan dan kerja kerasnya untuk tidak ditangkap memang sungguh luar biasa, namun saat ini Nazaruddin sudah pasrah dan menerima hasil keputusan hakim tindakan pidana korupsi.

Menurut hakim tipikor, Nazaruddin melanggar beberapa pasal. Pertama adalah melanggar pasal 12 huruf b Undang Undang nomor 31 pada tahun 1999. Selain itu juga nazaruddin dinilai melanggar pasal 3 undang undang nomor 8 pada tahun 2010 yang menjelaskan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. Nazaruddin juga dianggp melanggar pasal 3 ayat 1 huruf a, c serta e Undang undang nomor 15 tahun 202 tentang tindak pidana pencucian uang.

Dari berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh nazarddin terhadap beberapa peraturan yang sudah dituliskan dalam undang undang, akhirnya diputuskan mendapatkan hukuman selama 6 tahun. Selain itu juga nazarudin mendapatkan hukuman lainnya selama 7 tahun dikarenakan permasalahan wisma atlet.

13 tahun bukanlah waktu yang lama, tetapi bukan juga waktu yang sebentar bagi pelaku tindak pidana korupsi. Namun demikian, seharusnya pelaku korupsi diberikan hukuman yang lebih berat. Pasalnya selain merugikan negara, dengan tindak pidana korupsi tentunya merugikan masyarakat juga. Hasil dari pajak yang dikumpulkan negara untuk berbagai kepentingan masyarakat itu sendiri akhirnya dipergunakan secara tidak benar oleh sebagian orang.

Dari berita hari ini yang dibaca, tentunya menjadi kekesalan tersendiri bagi para aktivis anti korupsi. Memang benar, seharusnya hukuman tersebut harus lebih besar dibandingkan pencuri kelas kakap lainnya. Namun dihari yang suci ini, tentunya kita tidak boleh mendoakan agar mendapatkan sesuatu hal yang buruk didapatkan. Berdoa sajalah, agar mendapatkan hidayah agar bisa instropeksi diri saat menjalani masa tahanan.