Lawang Sewu Kini Tak Seseram Dulu Lagi

Apa yang ada di kepala Anda ketika mendengar Lawang Sewu disebut? Tak salah jika kemudian Anda bergidik ngeri karena itu merupakan salah satu tempat terangker di Kota Semarang. Apakah memang Lawang Sewu seseram itu?

Bangunan Lawang Sewu terletak di tengah Kota Semarang, tepatnya di Jalan Pemuda di depan Tugu Muda. Dari pusat kota Simpang Lima, untuk sampai di Lawang Sewu hanya sekitar 10 menit, apalagi kondisi lalu lintas di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu relatif lancar. Gedung yang aslinya bernama Wilhelminaplein dan dibangun pada 1904 tersebut berada di bawah pengelolaan PT Kereta Api Indonesia.

Sebelum berkeliling kompleks Lawang Sewu, Anda harus membayar tiket masuk. Harga tiket yang harus dibayar untuk dewasa Rp 10.000 per orang, sedangkan anak-anak usia 3-12 tahun serta pelajar hanya Rp 5.000 per orang. Sedangkan untuk masuk ruang bawah tanah dikenakan biaya Rp 30.000. Jika ingin ditemani pemandu, Lawang Sewu menyediakan jasa pemandu resmi dengan bayaran Rp 30.000.

Saat masuk, bukan kesan seram yang ditampilkan Lawang Sewu. Sebagai salah satu objek wisata heritage yang kesohor di Kota Semarang karya arsitek C Citroen, gedung itu telah berbenah diri. Di pintu gerbang, plakat batu hitam menjadi petunjuk keterangan jam buka serta harga tiket untuk masuk menjelajahi Lawang Sewu. Tertulis, Lawang Sewu dibuka pukul 7.00 dan tutup pukul 21.00. Dengan jadwal ini, pengunjung makin ramai saat matahari makin tinggi dan hari makin gelap.

Sebagai simbol kereta api, di teras gedung teronggok lokomotif hitam yang merupakan salah satu koleksi dari Museum Kereta Api Ambarawa. Lokomotif lainnya juga bisa dilihat di halaman tengah kompleks Lawang Sewu. Dari tengah halaman, bisa dilihat, ada dua bangunan besar yang berdiri seperti membentuk huruf U. Sejumlah pintu kayu serta kusen jendela dibiarkan terbuka, memperlihatkan bahwa bangunan itu memang pantas disebut Lawang Sewu yang artinya seribu pintu.

Berdasarkan cerita, bangunan A dan B mulai digunakan saat pemerintahan Belanda sebagai kantor administrasikereta api. Di Gedung B ada area bungker yang dipakai untuk menampung air sebagai pendingin tembok ruangan yang menghasilkan udara sejuk.

Sebagai bangunan tua, semua yang ada di Lawang Sewu masih orisinal. Semua pintu, kusen, dan kaca merupakan peninggalan pemerintahan Belanda. Lawang Sewu mulai dikenal angker setelah pertempuran lima hari di Semarang pada 1945. Ketika itu tentara Indonesia menggempur pemerintah Jepang yang berkantor di Lawang Sewu. Sejumlah korban orang Indonesia yang tewas dimakamkan massal di halaman depan Lawang Sewu. Oleh pemerintah Jepang, Lawang Sewu digunakan sebagai tempat penyiksaan termasuk kerja paksa rakyat Indonesia.

Fungsi bungker yang awalnya sebagai tempat menampung air pendingin ruangan, menjadi penjara bawah tanah yang mengerikan. Oleh pemerintah Jepang, bungker digunakan sebagai penjara duduk dan berdiri yang minim udara. Saat ada tawanan yang meninggal, mayatnya dibuang ke sungai di belakang Lawang Sewu.

Sebelum direnovasi, bungker itu bisa dimasuki terutama untuk Anda yang ingin uji nyali. Setelah renovasi selesai ada tangga yang akan menghubungkan lantai atas dengan bungker sehingga pengunjung akan mudah memasukinya. Sejumlah larangan agar tak melakukan kegiatan mistis terpampang di beberapa bagian gedung. Agaknya Lawang Sewu ingin melepaskan diri dari citra mistis dan seram yang melekat selama ini.