Hati-hati, Rasa Gelisah Dapat Meningkatkan Risiko Kematian Dini

Khawatir, gelisah, galau. Kata-kata yang umum kita dengar dan bersifat normal untuk dirasakan semua manusia. Tetapi, hati-hati! Kegelisahan ternyata bisa menuntun seseorang pada kematian dini meskipun kegelisahan itu masih tergolong rendah.

Seorang aktris Hollywood, Brittany Murphy, mungkin saat mi masih hidup bila kegelisahan yang dialaminya bisa diterapi dengan baik. Dia juga mungkin tak akan tewas pada 20 Desember lima tahun silam, bila orang di sekelilingnya lekas menyadari kondisi aktris yang berperan di film komedi yang hits pada tahun 1995, “Clueless‘ dan juga membintangi film “8 Mile” bersama Eminem.

Semua diawali dengan kegelisahan. Pada akhir masa hidupnya, Brittany mengonsumsi banyak obat untuk antidepresan, obat penenang, dan obat antigelisah. Ditambah lagi, dia mengonsumsi obat batuk dengan alasan untuk menghilarigan sakit di dadanya.

Baca juga : 12 Cara Mengelola Stres Untuk Wanita Karir

Richard Shepherd, seorang dokter patologi, mengatakan, kombinasi obat-obatan itu berkontribusi untuk kematian Brittany. Obat-obatan bisa memberikan manfaat, tapi juga memiliki efek samping. Mencampurkan semuanya berarti mengombinasikan efek samping hingga dapat mematikan.

Apa yang Brittany gelisahkan? Dia sangat takut dengan paparazzi. Dia pun gelisah karena merasa sedang diawasi dan menjadi target pemerintah Amerika setelah menjadi saksi utama dalam persidangan yang melibatkan temannya. Namun, karena obat-obatan itu, orang sekelilingnya tak sadar dia memiliki masalah karena Brittany selalu terlihat tenang.

Bukan itu saja. Dia dan suaminya yang menikah tahun 2007, juga menjadi pasangan yang penyendiri di rumahnya. Saking khawatir dengan lingkungannya, ia memasang sistem pengamanan “Fort Knox”, sistem penguncian dengan sidik jari, dan sejumlah CCTV.

Brittany pun mempekerjakan satuan pengamanan yang berpatroli di rumahnya selama 24 jam. Mereka mengatakan ada helikopter yang mengawasi di rumahnya. Mereka sangat ketakutan. Pengamanan yang dibuat di rumahnya benar-benar gila, itu berlebihan. Dan semua hanya karena mereka takut dan gelisah.

Sejak lama, para dokter sudah mengetahui bahwa depresi dan kegelisahan bisa meningkatkan risiko kematian dini. Apalagi, kalau gejala-gejalanya sudah cukup serius dan berkaitan dengan peristiwa hidup yang menyedihkan seperti kematian seorang yang dikasihi.

Baca juga : Waspadai Kelainan Refraksi Mata Pada Anak

Akan tetapi bagaimana dengan orang yang mengalami kesedihan dan kekhawatiran? Apalagi, begitu banyak hal yang dikhawatirkan di sekeliling kita, yang sebenarnya merupakan masalah hidup sehari-hari.

Ternyata, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan British Medical Journal dan dimuat di laman berita Huffington Post, menyebutkan bahwa gejala depresi dan kegelisahan yang ringan pun ternyata membahayakan.

Dokter bisa saja tak memperhatikan kegelisahan tingkat rendah itu, tapi sebenarnya berkaitan dengan risiko tinggi mengalami kematian dini.

Meskipun begitu, studi itu itu menyebutkan bahwa mereka yang mengalami stres dalam taraf terendah pun memiliki risiko kematian dini. Tingkat risiko kematiannya 16% lebih tinggi dibandingkan mereka yang bebas dari stres.

Mereka yang mengalami stres taraf rendah tak akan memperlihatkan gejala-gejala menderita ataupun didiagnosis kegelisahan atau depresi saat bertemu dokternya.

Meski begitu, risiko kematian itu tetap mengintai. Dibandingkan dengan orang yang bahagia, mereka yang  menderita psikologis terendah berisiko kematian akibat kecelakaan yang mencapai 23% serta 25% lebih tinggi mati akibat stroke atau sakit jantung.